Sejak Publikasi acara RoarGama 4.0 di media massa, tiket silver dan gold lenyap hanya dalam beberapa hari. Nyatanya, perhelatan gamelan akbar begitu dirindukan banyak orang. Penunjung pun sangat antusias begitu melihat iklan yang ditampilkan, begitu pula saya.
Bicara soal pengunjung, acara ini sukses menghadirkan lebih dari 5000 penonton. Tak hanya dari Mahasiswa UGM dan Alumni Gadjah Mada namun juga dipenuhi antusiasme dari masyarakat yang berasal dari Jogja dan sekitarnya. Bahkan, para bule pun ikut antusias dalam area sekitar panggung.
Acara yang digelar 30 November kemarin mengangkat tema Rhapsody of the Archipelago: Gamelan 4.0. Tema tersebut mengusung semangat kebaruan dalam dunia seni dimanapun berada. Harapannya kedepan akan muncul ROAR UNPAD, ROAR ITB dengan Angklungnya maupun tampil di daerah lain dengan musik khasnya masing-masing.

Tak heran dan tak salah ketika pilihan menghabiskan malam minggu kemarin jatuh ke arena GSP. Berbagai penampilan yang sangat luar biasa berhasil membius para pengunjung yang datang. Kesegaran baru nampak dalam konser tersebut, biasaanya band papan atas di iringi oleh orkestra barat. Sekarang, gamelan pun bisa.
Desain panggung yang megah membuat acara kali ini berkesan mewah namun sangat merakyat.
Tiga set gamelan atau yang sering disebut tiga pangkon gamelan menjadi pengiring yang fantastis. Dua set bernada pentatonis dan satu bernada diatonis. Tak haanya panggung, tata cahaya dan sound system yang digunakan membuat acara ini menjadi suguhan yang istimewa bagi semua orang yang datang.
Pengalaman yang diberikan bukan hanya sekedar apresiasi musik, nilai-nilai budaya juga kental menyatu. Wajah gamelan benar-benar sesuai pada masanya. Gamelan membuat sendiri masanya. Inilah sumbangsih musik tradisional kepada musik global. Memberi banyak warna yang menimbulkan gradasi yang indah.
Tantangan yang dihadapi para pemusik juga sangat besar untuk membuat konser ini terwujud. Berbagai genre khas anak muda digabungkan dengan hal yang dianggap sangat tradisional.
Pertanyaan yang muncul, apakah bisa?
Pertanyaannya apakah bisa?
Jawabannya mengapa tidak?

Hasilnya mereka berhasil mengajak kita semua kagum dengan khazanah musik nasional. Acara ini menunjukkan bahwa anak muda mampu untuk mengelola budayanya sendiri. Meski sempat diguyung hujan, bukannya menyurutkan minat pengunjung untuk datang namun malah membuat penonton berbondong-bondong untuk datang menyaksikan.
Tak lupa, acara yang nantinya menjadi agenda tahunan ini juga memberikan anugrah Lifetime Archievement Award yang diberikan kepada Ki Trimanto atas jasa daan pengabdiannya terhadap seni dan budaya indonesia khususnya gamelan.

Penampilan pertama dibuka oleh tari kangen dari pulung dance studio. Gerakan energik benar-benar merepresentasikan anak muda juga tentunya diiringi alunan gamelan. Tak hanya sekali, ditengah acarapun mereka kembali menduduki panggung dengan kostum bernuansa putih yang menampilkan nuswantoro dengan iringan saron groove.

Dan benar, tak ada satupun lenonton yang lepas pandang ke arah lain ketika mereka naik panggung.
Yang tak kalah menarik, dalam Roar Gama 4.0 menampilkan 5 kelompok musik yang genrenya sangat digemari anak muda jaman sekarang, yaitu Mantra Vutura, Tashoora, Letto, FSTVLST juga Om New Palapa bersama Brodin yang menutup acara Roar Gama 4.0 kali ini.
Pemilihan kelompok tersebut bertujuan menampilkan berbagai macam tipe anak muda yang ada saat ini.

Mantra Vutura dipilih karena menjadi cerminan mimpi, harapan dan masa muda para generasi muda. Musik elektronik yang khas membuat tampilan merek sangat mengagumkan. Nuansa magis yang diciptakan lagu berjudul Human hingga Un Dex Troi benar-benar memukau penonton.
Sisi kritis remaja pun dimunculkan dengan kehadiran Tashoora. Kritik sosial khas anak muda kepada sistem yanga ada hadir dalam musik-musik tashoora. Kagum, itulah yang saya rasakan.

Yang tak disangka, musik rock pun dapat menyatu epik dengan gamelan. Untuk golongan anak muda yang energik, bertekad sangat kuat serta memiliki tujuan yang jelas diwakili olen FSTVLST.
Sedangkan Letto menggambarkan fase ketika hidup telah stabil, tentram, tenang dan alus. Nah, penampilannya ini, dengan lagu sandaran hati membuat seantero penonton ikut bernyanyi.
Terakhir ada om new palapa bersama brodin yang menjadi penghibur ketika semua fase telah dilalui.
Penampilan penutup yang dibawa oleh om palapa dengan dangdutnya, jelas membuat semua yang hadir ambyar. Setiap penampilan dalam konser ini begitu keren dan benar-benar sayang untuk dilewatkan. Tahun depan nonton yuk!

Leave a Reply