Lintas Perjalanan Manusia dalam Karya Khadim & Jumaadi

Mendokumentasikan perjalanan manusia dalam karya seni bukan pekerjaan yang mudah. Namun, baik Khadim Ali maupun Jumaadi berhasil memberikan buah pikiran mereka dalam karya yang cukup luas secara ukuran. Karya keduanya seolah mendistraksi karya lainnya dan mengundang mata untuk datang lebih dekat.

Perjalanan manusia atau lebih tepatnya proses migrasi manusia tentu memberikan banyak konsekuensi. Tak hanya manusia yang berpindah dari satu tempat lama ke tempat baru namun juga membawa berbagai produk kebudayaan manusia. Perjalanan ini bisa diinterpretasikan sebagai proses, jalur maupun dampak yang timbul karena adanya kegiatan ini. Dua perupa beda budaya, beda asal geografis ini memiliki cara sendiri memaknai perjalanan manusia.

Manusia yang Berjalan Berdampingan

Jumaadi, perupa asal Sidoarjo yang kini menetap di Australia ini menggunakan kompleksitas pengetahuannya dalam karya berjudul Migration of Flora and Fauna. Karya dengan ukuran raksasa ini terbentang sepanjang 12 meter pada pameran Voice Against Reason di Museum MACAN 2024. Lukisan ini menggambarkan perpindahan flora dan fauna yang sejalan dengan perpindahan manusia. Jumaadi menggoreskan sensibilitasnya terhadap lingkungan yang didukung dengan pengetahuan sejarah serta imajinasi yang tak terbatas.

Pohon yang ditebang, kepala binatang, pohon yang berdaun rimbun, penduduk yang melakukan pekerjaan, semuanya terlihat seperti sebuah proses kehidupan manusia. Motif lukisan ini tidak tumpang tindih meski berada di satu media yang sama. Terlihat seperti dongeng dari masa lalu, tapi jauh lebih kompleks. Ini menggambarkan hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan alam.

Jumaadi - Migration of Flora and Fauna

Hal lain yang menarik adalah eksplorasi Jumaadi pada media lukisnya. Kamasan, sebuah kanvas bekas yang harus dicelupkan ke rendaman pasta beras sebelum digunakan sebagai media lukis. Adopsi media yang dilakukan Jumaadi ini menggambarkan kekayaan pengetahuan sejarah yang dimilikinya. Media kamasan dalam sejarah menjadi media yang banyak digunakan oleh seniman Bali di masa lampau.

Kamasan sendiri biasanya digunakan upacara keagamaan oleh masyarakat Kerajaan Majapahit yang mengungsi ke Bali berabad-abad yang lalu karena kerusuhan politik—sebuah budaya yang menjadi asal mula nenek moyang sang seniman. Media ini di era modern banyak digantikan oleh kanvas modern ataupun media lainnya yang lebih mudah ditemukan, namun eksplorasi Jumaadi seolah membangunkan kembali sebuah akar yang terkubur jauh di dalam tanah.

Sisi Khadim Ali dalam Karyanya

Takjub dengan karya Khadim Ali yang besar secara ukuran memang tidak cukup. Jika mengira ini dibuat dengan cara dilukis. Jawabannya salah. Karya ini lebih tepat disebut sebagai tapestri, sebuah kesenian yang lazim ditemukan di Timur Tengah. Butuh ketelatenan dan kesabaran yang tinggi untuk menghasilkan karya ini.

Dengan bahasa yang lebih awam, mungkin karya ini bisa disebut dengan permadani. Prosesnya sangat lama karena harus merangkai jalinan benang menjadi sebuah gambar yang utuh. Ada dua karya dengan ukuran besar yang disulam oleh Khadim Ali. Fragments of Identity dan Silent Ark. Karya ini terinspirasi dari puisi Epik Persia yang menggambarkan adegan-adegan Shahnama. Warna biru royal mendominasi permadani dengan ukuran besar ini. Bagi Khadim, tapestri yang dibuatnya adalah pengalaman empirik perjalanan manusia dari pengalamannya sendiri.

Kebakaran hebat yang terjadi di rumahnya di Quetta, sebuah kota dekat perbatasan Pakistan-Afghanistan, membuatnya harus mengungsi karena rumahnya hancur akibat dari bom bunuh diri. Dari sisa puing rumahnya, ia menemukan potongan permadani yang diberikan neneknya kepada sang ibunda. Hal ini menjadi inspirasi baginya untuk membuat tapestri.

Khadim Ali menggunakan simbol-simbol yang berasal dari Khadim Ali sendiri selama ia tumbuh besar di Pakistan. Ada banyak pengalaman-pengalaman dari konflik antara minoritas Hazara yang ada di Pakistan, yang membekas sampai sekarang. Dalam karpet tersebut, terlihat ilustrasi tenda biru yang menggambarkan majelis besar yang diadakan di Afghanistan, kumpulan dari banyak etnis-etnis baik mayoritas dan minoritas. Tapi kemudian Khadim ALi campurkan figur-figur orang yang sedangkan bergejolak di bawahnya. Ia juga menggambarkan patung Buddha yang sedang jatuh, ia menjelaskan tentang runtuhnya patung  Buddha di Afghanistan.

Memandang Dua Sisi dalam Perjalanan Manusia

Karya Khadim Ali tak hanya indah secara estetika namun juga menjadi medium penggambaran perjalanan manusia yang memiliki dua sisi. Fragments of Identity memberikan kesan gambar hidup dengan dua kejadian yang hidup berdampingan. Kebaikan dan kejahatan.

Burung yang mirip dengan Phoenix bernama Simurgh, burung khas mitologi Persia yang muncul dalam karya puisi epik berjudul Musyawarah Para Burung gubahan Fariduddin Attar. Seolah menaungi tenda biru yang berada di tengah karya, burung-burung ini terlihat membawa pesan kebijaksanaan dan kebaikan.

Sedangkan di tenda agung, berdiri para pemuka agama yang berkumpul secara damai. Ada yang menggenggam anak panah, serta mengelilingi buddha yang berbaring. Hal ini menggambarkan peristiwa penghancuran buddha Bamiyan oleh taliban yang terjadi pada tahun 2021. Inilah yang menarik dari karya ini, dua fragment layaknya dua sisi mata uang, baik dan buruk muncul dalam satu perjalanan manusia.

Silent Ark – Gulat antara Realita dan Imajinasi

Karya lainnya dari Khadim Ali yang memukau berjudul Silent Ark yang berukuran 5,7 x 11,14 meter. Menggunakan mesin bordir yang dikombinasikan dengan manual, karya ini terinspirasi dari peristiwa kebakaran hutan yang terjadi di Australia selama tahun 2019-2020. Ilustrasi yang memukau menampilkan hewan-hewan berlari dan berlindung dari semburan api naga. Penggambaran naga disini menjadi simbol kebakaran hutan yang terjadi.

Silent of Ark - Khadim Ali

Hewan-hewan yang muncul juga sangat menarik, baik hewan seperti kuda, unta, singa muncul bersamaan dengan hewan-hewan mitologi yang keduanya berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api menuju sebuah gunung suci “Uluru”. Karya ini memberikan realita kebakaran yang terjadi dan berbagai proses perjalanan melarikan diri ke sebuah tempat suci yang bebas bencana.

Untuk mengetahui karya-karya Jumaadi dan Khadim Ali, bisa mengintip ragam karyanya melalui instagram pribadi masing-masing. Untuk melihat dua karya yang ada dalam tulisan ini juga bisa mampir ke Instagram prasastisultan sebagai bentuk dokumentasi. Baca juga artikel seni lainnya di website ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *