Konser dibuka dengan dikumandangkannya dua lagu kebangsaan, Indonesia Raya dan God Save The King yang masing-masing dibawakan oleh Yogyakarta Royal Orchestra dan The British Army Colchester. Konser kolaborasi dua negara ini dilaksanakan dalam peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Inggris. Acara ini diselenggarakan pada Selasa (4/6) di Bangsal Kepatihan, Kraton Yogyakarta.
Konser ini dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey beserta jajarannya. Dalam perhelatan konser ini, Dominic Jermey menyampaikan harapannya agar Indonesia dan Inggris dapat mengembangkan kolaborasi yang ada di masa depan.
“Fokus utama hubungan Inggris dan Indonesia ada empat yakni people, planet, prosperity and peace. Dalam menjalin hubungan yang lebih erat berupaya mewujudkan perubahan positif di semua bidang tersebut. Bahwa masyarakat dapat mewujudkan lingkungan yang lebih hijau, makmur serta mendapatkan kedamaian”. Ungkap Dominic Jermey.
Dalam sambutannya, ia juga memaparkan bahwa ia merupakan kali pertama The British Army Band Colchester ke Indonesia. Ia berharap anggota band ini dapat turut serta menikmati kunjungannya ke Yogyakarta, baik dari segi pariwisata, kuliner dan budaya yang ada.
75 Tahun Hubungan Diplomatik – Pemahaman Budaya Lintas Negara
Sejalan dengan yang disampaikan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono X, selaku Gubernur DIY menyampaikan bahwa adanya konser kolaborasi ini merupakan bentuk kerjasama dua negara yang semakin merambah luas dan dalam.
“Konser ini merefleksikan kerjasama dan kepercayaan yang telah dibangun sejak tahun 1949. Kerjasama yang terjalin antara Kerajaan Inggris dan Indonesia tidak hanya pada politik namun juga merambah ke budaya yang luas dan mendalam sehingga membuahkan apresiasi lintas budaya. Hal ini menjadi jembatan yang memperkuat ikatan bangsa.” papar Sri Sultan HB X.
Ia juga menambahkan bahwa orkestra bukan hanya pertunjukan musik belaka namun juga menjadi isyarat langgengnya hubungan kedua bangsa. Ia juga berharap adanya kerjasama ini dapat mendorong pengembalian berbagai manuskrip keraton jogja.
“Orkestra bukan sekedar pertunjukan musik tapi juga manifestasi dari harmoni budaya yang dijunjung tinggi. Sebagaimana para pemain orkestra yang mempunyai nada dan melodi yang unik. Setiap dialog yang terjadi antara dua negara menjadi not yang berpadu sebagai harmoni dari hubungan kedua bangsa.” tambah Sri Sultan.
Dalam kesempatan konser ini pula, Sri Sultan HB X memberikan restunya kepada Yogyakarta Royal Orchestra yang akan tampil dalam Kuala Lumpur Orchestra Festival pada 6 Juni mendatang. Hal ini ditandai dengan pengalungan samir kepada Konduktor Yogyakarta Royal Orchestra, Raden Wedana Widyogunomardowo.
Acara konser dilanjutkan dengan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra yang membawakan dua repertoar berjudul Medley Suara Suling dan Menthok-Menthok. Alunan string yang berpadu dengan section wind memainkan dua buah repertoar ini dengan sangat apik sekaligus megah. Di tengah lagu (bridge) repertoar Menthok Menthok ditambahkan motif seperti iringan tamborin yang membuat lagu ini seru untuk didengarkan dengan seksama.
Diplomasi Musik dan Diplomasi Kuliner Kraton Yogyakarta
Pada kesempatan ini, Kraton Yogyakarta juga menghidangkan Jadah Tempe dan Sambel Ijo kepada para tamu undangan, sebagai bentuk diplomasi kuliner. Sebagaimana diketahui bahwa Jadah Tempe juga sudah masuk menjadi salah satu warisan budaya tak benda di Indonesia yang memiliki makna mendalam.
Sambil menyantap kudapan, hadir musik iringan Abdi Dalem Wiyogo yang membawakan Ladrang Mega Banjaran Laras Pelog Pathet Barang. Tak hanya itu, Gamelan besutan Kraton ini juga menampilkan karya Ki Laras Sumbogo yang mengabdi pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Karya ini terinspirasi dari Jam besar, Big Ben Westminster. Karya yang diberi nama Gending Westminster ini lahir tahun 1925. Gending ini menampilkan demung dan saron yang bersahut sahutan. Gender dan cemplung yang dibunyikan seirama bunyi jam.
The British Army Band Colchester kemudian naik panggung di hadapan Sri Sultan HB X dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dengan membawakan lima repertoar. Band yang telah piawai dan keliling dunia ini menampilkan beragam gaya musik mulai dari karya simfoni militer hingga pawai musik dan lantunan musik jazz termasuk karya band Coldplay dan Bon Jovi. Beberapa diantaranya, berjudul Captain America, A Bridge too Far, Lord of the Dance dan sebagainya.
Penampilan terakhir merupakan kolaborasi antara Abdi Dalem Wiyogo Kraton dengan The British Army Band Colchester. Dengan dipimpin oleh Mas Lurah Widyayitno Waditra kolaborasi ini membawakan dua buah repertoar, Gathi Taruno dan Suwe Ora Jamu. Keduanya tampil penuh semangat dan sangat harmonis dalam memainkan repertoar yang dibawakan.
Untuk menyaksikan kembali konser yang digelar, Kraton Yogyakarta telah mempublikasikan konser ini melalui kanal Youtube Kraton Jogja. Baca juga berbagai artikel mengenai konser lainnya di website ini. Semua foto yang digunakan dalam artikel ini sepenuhnya merupakan milik Kraton Yogyakarta yang diambil melalui tangkapan gambar melalui kanal Youtube.








Leave a Reply